penerapan teori motivasi abraham maslow pada pt.thamrin brothers
PENERAPAN TEORI MOTIVASI ABRHAM MASLOW
PERUSAHAAN PT.THAMRIN
BROTHER
Disusun
oleh :
Nama :
Teguh Wijaya
Npm :
1450090040
Dosen
pembimbing : Elni Mutmainnah SP MP
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH BENGKULU
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kesuksesan
suatu perusahaan sangat tergantung dengan aktivitas dan kreativitas sumber daya
manusia yang ada dalam perusahaan tersebut. Karyawan merupakan sumber
daya yang paling penting dalam suatu perusahaan untuk mencapai visi dan
misinya.
Hal tersebut dikarenakan pemikiran-pemikiran Maslow
berkaitan dengan kemanusiaan (humanity)
yang pastinya akan berhubungan dengan semua aspek kehidupan. Teori-teori Maslow
banyak dirujuk sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Keluarnya mereka dikarenakan adanya faktor yang
menekan mereka sehingga membuat dirinya keluar dari pekerjaan itu dengan
sendirinya, walau mereka tahu bahwa mencari pekerjaan pada zaman ini itu sangat
sulit. Keluarnya mereka dari pekerjaan asalnya dengan beberapa alasan seperti,
ketidak nyamanan dalam bekerja, suasana yang tidak sesuai dengan keinginannya,
kurangnya factor pendorong mereka untuk lebih giat dalam bekerja dan tekanan
pekerjaan. Keterbatasan lapangan pekerjaan juga menjadi factor yang membuat
banyaknya pengangguran.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sebuah perusahaan memberikan motivasi terhadap para karyawannya?
2. Bagaimana para anggota perusahaan menciptakan iklim organisasi yang baik?
3. Apakah hambatan yang didapat dalam menciptakan iklim tersebut?
BAB
II
TEORI
MASLOW
2.1
Teori-teori motivasi :
o Teori maslow : piramida terbalik
1. Fisik : kebutuhan
biologis karyawan atau kebutuhan dasar, dimana kebutuhan dasar ini berupa sandang, pangan dan papan, serta kebutuhan dasar
lainnya.
2. Rasa aman : kebutuhan akan rasa aman karyawan terhadap dirinya
dalam melakukan pekerjaannya, kebutuhan ini biasa dipenuhi dengan asuransi yang
diberikan oleh perusahaan.
3. Social : dimana kebutuhan
akan rasa dihargai dan diterima oleh orang lain menjadi kebutuhan selanjutnya
setelah rasa aman dan fisik terpenuhi.
4. Penghargaan : kebutuhan akan dihargainya usaha karyawan terhadap pekerjaannya,
seperti kenaikan gaji dan reward.
5. Aktualisasi diri : dimana kebutuhan yang muncul setelah
empat kebutuhan seperti fisik, rasa aman, social dan penghargaan terpenuhi.
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk memuaskan dirinya, seperti jabatan
(kenaikan jabatan).
Teori maslow lebih efektif dalam memotifasi karyawan dibandingkan dengan
teori ERG (Existence,
Relatedness, dan Growth) dari Elderfer, karna Maslow menjelaskan
kebutuhan yang dibutuhkan seseorang dalam melakukan tugasnya, sedangkan
Elderfer hanya memberikan tiga kebutuhan dan itu pun belum tentu sesuai dengan
seseorang. Maslow menjelaskan 5 kebutuhan dari yang dasar dan tahapannya,
sedangkan Elderfer hanya menjelaskan kebutuhannya tanpa ada tahapan-tahapan
yang jelas.
Teori pengharapan victor VROOM : teori ini menyebutkan bahwa seseorang akan
memiliki motivasi yang tinggi jika ia memiliki harapan-harapan atas pekerjaan
yang telah ia lakukan.
Teori pengharapan VROOM jauh lebih efektif dibanding dengan teori persepsi
dari Pace, karena Vroom menjelaskan akan adanya suatu hal yang dipercaya oleh
karyawan akan hasil kerjanya, dibandingkan dengan mempersepsikan lingkungan
kerjanya (seberapa baik harapan dipenuhi, peluang apa yang tersedia, seberapa
banyak pemenuhan yang terjadi, dan berapa baik peranan-peranan organisasi yang
bermanfaat dilaksanakan). Kepercayaan karyawan akan hasil yang ia dapat dari
pekerjaannya itu jauh lebih memotivasi disbanding dengan mempersepsikan
lingkungan yang ada.
Teori iklim
:
Steve Kelneer menyebutkan enam
dimensi iklim organisasi sebagai berikut :
1. Flexibility conformity. Fleksibilitas dan comfomity merupakan
kondisi organisasi yang untuk memberikan keleluasan bertindak bagi karyawan
serta melakukan penyesuaian diri terhadap tugas-tugas yang diberikan. Hal ini
berkaitan dengan aturan yang ditetapkan organisasi, kebijakan dan prosedur yang
ada. Penerimaan terhadap ide-ide yang baru merupakan nilai pendukung di dalam
mengembangkan iklim organisasi yang kondusif demi tercapainya tujuan
organisasi.
2. Resposibility Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai elaksanaan tugas
organisasi yang diemban dengan rasa tanggung jawab atas hasil yang dicapai,
karena mereka terlibat di dalam proses yang sedang berjalan.
3. Standards. Perasaan karyawan tentang kondisi organisasi dimana manajemen memberikan
perhatian kepada pelaksanaan tugas dengan baik, tujuan yang telah ditentukan serta
toleransi terhadap kesalahan atau hal-hal yang kurang sesuai atau kurang baik.
4. Reward. Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan tentang penghargaan dan
pengakuan atas pekerjaan yang baik.
5. 5. Clarity. Terkait dengan perasaan pegawai bahwa mereka mengetahui apa yang diharapkan
dari mereka berkaitan dengan pekerjaan, peranan dan tujuan organisasi.
6. Tema Commitmen. Berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai perasaan bangga mereka memiliki
organisasi dan kesediaan untuk berusaha lebih saat dibutuhkan.
Stringer (Wirawan, 2007) menyebutkan bahwa karakteristik atau dimensi iklim
organisasi dapat mempengaruhi motivasi anggota organisasi untuk berperilaku
tertentu. Ia juga mengatakan enam dimensi yang diperlukan, yaitu:
1. Struktur. Struktur merefleksikan perasaan
bahwa karyawan diorganisasi dengan baik dan mempunyai definisi yang jelas
mengenai peran dan tanggung jawab mereka. Meliputi posisi karyawan dalam
perusahaan.
2. Standar-standar. Mengukur
perasaan tekanan untuk memperbaiki kinerja dan derajat kebanggaan yang dimiliki
karyawan dalam melakukan pekerjaannya dengan baik. Meliputi kondisi kerja yang
dialami karyawan dalam perusahaan.
3. Tanggung jawab.
Merefleksikan perasaan karyawan bahwa mereka menjadi “pimpinan diri sendiri”
dan tidak pernah meminta pendapat mengenai keputusannya dari orang lain.
Meliputi kemandirian dalam menyelesaikan pekerjaan.
4. Pengakuan. Perasaan
karyawan diberi imbalan yang layak setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan
baik. Meliputi imbalan atau upah yang terima karyawan setelah menyelesaikan
pekerjaan.
5. Dukungan. Merefleksikan perasaan
karyawan mengenai kepercayaan dan saling mendukung yang berlaku dikelompok
kerja. Meliputi hubungan dengan rekan kerja yang lain.
6. Komitmen. Merefleksikan
perasaan kebanggaan dan komitmen sebagai anggota organisasi. Meliputi pemahaman
karyawan mengenai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1
Berawal dari tahun 1972
hingga saat ini PT. Thamrin Brothers sebagai Main Dealer Sepeda Motor YAMAHA
dengan wilayah pemasaran Sumatera Selatan dan Bengkulu, telah tumbuh dan
berkembang pesatsebagai perusahaan Lokal yang dapat berkompetisi dengan
perusahaan asing dan nasional lainnya.
Tumbuh
kembang PT. Thamrin Brothers di buktikan dengan pertumbuhan jumlah
jaringan penjualan di berbagai kota di Sumatera Selatan dan Bengkulu. PT
Thamrin Brothers telah membangun total 36 cabang di seluruh wilayah Sumatera
Selatan dan Bengkulu.
Dengan dukungan
fasilitas baik sarana dan prasana Penjualan (Sales), Bengkel (Service) dan Suku
Cadang (Spear Part) atau yang disebut 3S. Berbagai infrastruktur telah
disiapkan untuk memberikan kemudahan bagi pengguna Sepeda Motor YAMAHA.
1. PT.THAMRIN BROTHERS memiliki jaringan distribusi
yang paling luas di barat indonesia khususnya di wilayah sumbangsel. Perusahaan
ini mendistribusikan hampir seluruh produk motor dan sparepart yamaha ke pada
konsumen di wilayah sesumbangsel.
Melihat pola
yang ada dalam perusahaan thamrin brothers, maka dilakukan wawancara terhadap
salah satu karyawan dari perusahaan thamrin groups bernama bayu rahmad
hamdani. Beliau merupakan karyawan
salesman PT.Thamrin brothers curup yang telah bekerja selama 4 tahun, demikian
hasil wawancara kami berdua :
teguh = t, bayu = P
t : selamat
siang, pak?
b : siang.
t : boleh
bertanya-tanya sebentar pak?
b : boleh.
t : apakah
selama ini bapak merasa nyaman dengan pekerjaan bapak?
b : ya, saya
merasa nyaman-nyaman saja
t : apakah
bapak memiliki semangat atau motivasi dalam pekerjaan bapak?
b : tentu
saja
t : apa itu
pak?
b : yah
pastinya karena tuntutan ekonomi,untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri ,itung2
bisa ngasih orang tua juga,karena pekerjaan saya itu kan memakai target jadi
terpacu terus lah untuk mencapai target tersebut,agar gajinya juga gede,hehe
t :kira-kira
sampai kapan bapak akan tetap berada disini pak?
b : ya
kira-kira sampai saya tua lah,he
t : apakah
yang membuat bapak begitu nyaman nya di bidang ini?
b :
naahh,,ginii!
t :
emangnya, apa saja rutinitas bapak?
b : saya
dibidang salesman
t : woow,
hebat dong bapak, pastinya gajinya besar dong pak?
b :cukuplah,yg
membuat saya tertarik adalah tantangan nya,karena tiap ada capaian target yang
harus digapai nah saya selalu mencapai target tersebut,karena saya suka
tantangan,dan bertemu orang-orang baru.
t : bagaimna
dengan lingkungan kerja bapak?
b : lingkungan
kerja di thamrin ini sangat nyaman rasa kekeluargaannya erat.antara atasan dan
bawahan tidak otoriter,kita demokratis mengeluarkan pendapat demi kemajuan pt
thamrin..
t : oke deh
pak kalau begitu, terima kasih atas informasinya.
b : oke
sama-sama, pak.
Menurut
hasil wawancara diatas bahwa motivasi yang didapatkan oleh bapak bayu rahmat
hamdani terhadap pekerjaan yang ia dapat sudah cukup,dan iklim organisasi
tersebut sudah bagus dan baik, sehingga kenyamanan dalam bekerja pun dapat
terciptakan.
Menurut
teori maslow, bapak bayu ini telah mencapai tingkat keempat yaitu kebutuhan
penghargaan, dimana ia ingin usahanya dihargai seperti kenaikan gaji yang ia
inginkan itu, sehingga motivasinya dalam melakukan pekerjaan akan berkurang dan
hal ini akan merugikan perusahaan.
Menurut teori
Vroom, apa yang di alami oleh bapak Susanto ini tidak sesuai dengan apa yang ia
harapkan, sehingga apa yang menjadi pekerjaannya akan ia kerjakan biasa-biasa
saja, tanpa ada motivasi, haslinya pun akan biasa saja, atau bahkan akan dapat
hancur karna kekecewaan karyawan.
Dalam teori
Iklim organisasi, berdasarkan hal diatas, sudah hamper mencapai dimensi-dimensi
yang ada, seperti yang diberikan oleh Stringer yaitu struktur ( para karyawan
memiliki pernannya masing-masing), tanggung jawab ( para karyawan memiliki
tanggung jawabnya masing-masing), dukungan dan komitmen. Dengan tercapainya
dimensi itu sehingga dapat menciptakan keadaan organisasi yang cukup baik.
Dalam perusahaan itu juga tidak tercapainya suatu dimensi seperti standar (
tekanan atas pekerjaan yang diberikan) dan pengakuan (kurangnya penghargaan
yang diberikan terhadap hasil pekerjaan karyawan). Karna ada dan tidak
tercapainya dimensi-dimensi itu makana iklim yang ada akan tercipta baik-baik
saja, dan bahkan bias hancur suatu saat jika tidak langsung diperbaiki.
Komentar
Posting Komentar